Selayang Pandang Yayasan HAMBA

YAYASAN Sahabat Manusia Pembutuh Cinta – biasa disebut lebih ringkas dengan Yayasan HAMbA – didirikan oleh Ibu Lestari Projosuto pada tahun 2012 di Pakem, Yogyakarta. Sejak akhir 2023 Yayasan HAMBA menempati Rumah Transisi, sebuah rumah tua yang disewa, berlokasi di Dero Wetan, Kelurahan Harjobinangun, Kecamatan Pakem, setelah terusir dari kompleks hunian yang lebih dari sekedar layak di Dusun Katen, juga di Kelurahan Harjobinangun, sebagai akibat dari sengketa dengan Yayasan Aulia yang juga didirikan oleh Ibu Lestari Projosuto.

Ibu Lestari, mantan biarawati dari Ordo Ursulin kelahiran tahun 1943, kini tinggal di Rumah Transisi Yayasan HAMBA bersama 16 anak asuh dari kategori anak-anak yang tertolak dan para pendamping anak.

Dengan anak-anak dari kategori tertolak oleh keluarga dan lingkungan atau masyarakat asal, Yayasan HAMBA adalah lembaga pengasuhan anak atau panti asuhan, atau yang secara teknis kedinasan disebut dengan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA), yang bersifat inklusif dalam arti luas. Inklusif bukan hanya menyangkut latar belakang agama orang-tua atau etinisitas mereka, namun beberapa anak asuh ada yang perlu menjalani terapi secara ajeg, ada yang berkebutuhan khusus, juga ada yang belajar di SLB (Sekolah Luar Biasa). Sebagian besar anak asuh Yayasan HAMBA mengenyam pendidikan di sekolah negeri setempat.

Anak-anak asuh Yayasan HAMBA menganut agama sesuai agama orang- tua mereka, dengan demikian ada anak yang beragama Katolik, ada yang Kristen, dan sebagaian besar beragama Islam. Demikian juga dengan pengurus Yayasan yang memiliki latar belakang keyakinan yang beraneka: ada yang Katolik, ada yang ustadz, juga ada yang menganut agama Buddha. Yayasan HAMBA adalah lembaga independen dalam arti tidak berafiliasi dengan lembaga agama tertentu.